Orang yang Baik
Kadang kita bilang, si A baik, si B kurang baik, si C jahat dan sebagainya. Apa parameter kita menyebut seseorang itu baik, atau kurang baik, atau jahat ? Mengapa kita sering membeli label kepada orang lain dan mengukurnya berdasarkan ukuran kita sendiri ?
Kadang kita menyebut si A baik karena suka menolong, si B kurang baik karena tidak suka menolong. Secara tidak langsung kita membandingkan satu parameter antara si A dengan si B tanpa menyadari apakah perbandingan itu apple to apple atau apple to tea ?
Kita juga pernah menyebut si B jahat karena Bapaknya Koruptor atau pencuri atau penadah barang curian yang kemarin baru ditangkap polisi. Ini juga suatu labelling yang sangat berbahaya, karena standar kebaikan ditempelkan kepada orang yang dekat dengannya. Karena belum tentu si B setuju dengan tindakan Bapaknya, dan sudah memberikan nasehat tapi tidak digubris oleh Bapaknya
Kita pernah pula menyebut si C kurang baik karena pernah melihat berdua dengan seorang wanita yang bukan istri atau saudaranya. Labelling ini masih dalam tahap dini untuk diberikan, karena masih belum cukup bukti untuk menyebut bahwa pertemuan dengan wanita itu dalam rangka untuk berbuat kejahatan. Karena toh tidak ada larangan dalam Undang-Undang untuk bertemu dengan seorang atau beberapa orang wanita yang bukan istri atau keluarga. Tapi kembali kita mengukur dengan Undang-undang yang kita buat sendiri dalam diri kita.
Mengapa manusia sering berbuat demikian ? Karena manusia punya naluri untuk membandingkan dirinya dengan diri orang lain. Akan lebih bagus jika labelling yang baik itu bisa menjadi sarana untuk mencotoh orang tersebut serta labelling yang kurang baik atau jahat itu untuk disimpan sendiri sampai ada bukti-bukti yang kuat bahwa orang tersebut benar-benar seperti itu untuk kemudian melakukan amaliyah amar ma’ruf nahiy munkar.
Wallohu a’lam bish-showab
Filed under agama | Comments (4)Bacalah Al-Qur’an, kawan
Bacalah Al-Qur’an kawan
Karena dialah penuntunmu menuju kehidupan yang sebenarnya Continue reading »
Filed under agama, religion | Comments (2)Kiblat
Jika ditanya, kemana kiblat kita, maka kita akan susah payah untuk menjawabnya dengan jujur dan berusaha untuk menutup-nutupinya. Kalau kita menjawabnya dengan kekayaaan, kekuasaan, kesuksesan, kecantikan, ketampanan, maka itulah sebenarnya jawaban yang paling jujur keluar dari lubuk hati kita yang paling dalam. Salah atau benar, itu bukan urusan kita, paling tidak kita menghargainya karena itulah jawaban yang paling jujur tentang kiblat kita, tentang orientasi hidup kita. Continue reading »
Filed under religion | Comments (4)